Total Tayangan Halaman

Selasa, 18 Agustus 2026

Kabar Kecil Tentangmu

Kabar Kecil Tentangmu

16 Agustus 2026

Benar-benar perjalanan ini nyata.

Hari itu, ibu dan ayah ingin memastikan
bahwa kamu benar-benar ada,
bahwa kamu baik-baik saja di dalam sana.

Ada rasa gugup, bahagia, dan harap
yang bercampur menjadi satu.

Untuk pertama kalinya,
ibu dan ayah mencoba melihat
seseorang yang selama ini hanya ada
di dalam doa dan bayangan kami.

Nak, mungkin saat itu kamu masih begitu kecil,
bahkan belum bisa kami peluk dengan tangan.

Tapi sejak hari itu,
ibu dan ayah mulai belajar
bahwa mencintai seseorang
ternyata bisa dimulai
bahkan sebelum kami benar-benar mengenalmu.

Perjalanan ini nyata, Nak.
kita jalani ini sama-sama ya...
Dan kami akan berjalan bersamamu,
pelan-pelan, satu hari demi satu hari. 🤍

Perjalanan Baru Bersamamu

 Perjalanan baru dimulai.

14 Agustus 2026.

Pagi itu, aku dan ayahmu mencoba memastikan bahwa kamu ada.

Dengan hati yang berdebar,
ada doa yang diam-diam kami titipkan kepada Tuhan.
Entah sejak kapan, kami mulai membayangkan bagaimana rasanya jika benar-benar ada kamu di antara kami.

Hari itu mungkin terlihat sederhana,
hanya sebuah pagi biasa bagi dunia.
Tapi bagi kami, pagi itu terasa berbeda.

Karena untuk pertama kalinya,
kami menunggu sebuah kabar kecil
yang mungkin akan mengubah seluruh hidup kami.

Jika benar kamu sedang datang,
ketahuilah, Nak…
bahkan sebelum kami melihat wajahmu,
sebelum mendengar tangismu,
sebelum tahu bagaimana kecilnya tanganmu menggenggam jari kami,

kamu sudah begitu kami tunggu.

Dan jika perjalanan ini benar-benar dimulai hari itu,
semoga kelak kamu tahu…

bahwa kamu adalah doa
yang pernah kami tunggu dengan penuh cinta. ❤️

Selasa, 11 Agustus 2026

Kita Tidak Sedang Berlomba

 

Kita Tidak Sedang Berlomba

Setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Sebab hidup bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan perjalanan tentang bagaimana setiap orang menempuh jalannya.

Kita seperti para pengendara di jalan yang panjang.
Masing-masing membawa tujuan, memilih kecepatan, dan menempuh arah yang mungkin terlihat sama, tetapi tidak pernah benar-benar serupa.

Ada yang melaju begitu cepat,
ada yang memilih berjalan perlahan.
Ada yang berhenti sejenak untuk beristirahat,
ada yang harus memutar karena jalan di depannya tak bisa dilalui.

Di sepanjang perjalanan, kita akan bertemu banyak orang.
Ada yang berjalan bersama kita cukup lama,
ada yang hanya sebentar lalu berbelok ke arah lain.
Ada yang datang tepat ketika kita membutuhkannya,
dan ada pula yang pergi ketika kita masih berharap mereka tetap tinggal.

Begitulah hidup.
Tidak semua pertemuan diciptakan untuk selamanya,
dan tidak semua perpisahan berarti kehilangan.
Sebagian orang memang hanya ditakdirkan menjadi bagian dari satu ruas perjalanan kita—datang pada waktunya, memberi sesuatu yang perlu kita pelajari, lalu melanjutkan perjalanan mereka sendiri.

Kadang kita bertemu seseorang di jalan yang sama,
pada waktu yang sama, bahkan menuju tujuan yang sama.
Namun, bukan berarti kita memiliki kesempatan yang sama.

Kita tidak pernah tahu
berapa banyak tanjakan yang telah mereka lewati,
berapa kali mereka hampir menyerah,
berapa banyak luka yang mereka sembunyikan,
atau berapa panjang jalan yang harus mereka tempuh sebelum akhirnya sampai.

Maka, jangan merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain lebih dahulu tiba.

Kita hanya sedang berada di bagian perjalanan yang berbeda.

Dan jangan pula merasa telah mendahului hanya karena melihat orang lain masih jauh di belakang.
Sebab kita tidak pernah tahu
jalan seperti apa yang sedang mereka lalui,
ujian apa yang sedang mereka hadapi,
dan kejutan apa yang sedang Allah persiapkan di ujung kesabaran mereka.

Barangkali mereka bukan terlambat.
Barangkali Allah sedang membuat mereka lebih siap untuk menerima apa yang mereka tuju.

Dan mungkin, kita pun bukan tertinggal.
Kita hanya sedang diajarkan untuk menikmati perjalanan sebelum sampai pada tempat yang selama ini kita doakan.

Jadi, berjalanlah.

Tak perlu terlalu sering menoleh ke kendaraan di sebelahmu.
Tak perlu cemas melihat siapa yang sudah jauh di depan.
Tak perlu pula merasa lebih unggul ketika ada yang masih berada di belakang.

Karena hidup bukan tentang siapa yang lebih dahulu sampai.

Hidup adalah tentang bagaimana kita tetap berjalan,
meski jalannya berbeda,
meski waktunya berbeda,
meski kecepatannya berbeda—
dengan percaya bahwa setiap langkah yang kita tempuh
tidak pernah luput dari pengetahuan Allah.

Ada orang yang sampai lebih dulu.
Ada yang harus menunggu lebih lama.

Ada yang mendapatkan apa yang diinginkannya di usia muda.
Ada yang baru menemukannya setelah melewati begitu banyak musim.

Dan itu tidak membuat perjalanan siapa pun menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Sebab pada akhirnya,
kita semua memiliki jalan yang telah Allah ukur dengan begitu sempurna.

Maka jangan bandingkan halaman hidupmu
dengan halaman hidup orang lain.

Kamu sedang membaca ceritamu sendiri.

Dan percayalah,
selama kakimu masih mau melangkah dan hatimu masih mau percaya,
kamu tidak pernah benar-benar terlambat.

Mungkin jalanmu lebih panjang.
Mungkin waktumu sedikit lebih lama.

Tetapi bisa jadi,
Allah sedang menuntunmu melalui jalan yang paling tepat
untuk sampai pada sesuatu yang memang ditulis khusus untukmu.

Jadi, tenanglah.

Kita tidak sedang berlomba.

Kita sedang pulang,
masing-masing melalui jalan yang telah Allah pilihkan.

Rabu, 20 Mei 2026

Antara Ketetapan-Nya dan Ketidakpastian Hamba-Nya

Antara Ketetapan-Nya dan Ketidakpastian Hamba-Nya hanya bisa Berdamai

Jangan dilawan, rasamu juga butuh validasi dari dirimu sendiri, ia ada
tidak terlihat memang, tapi sangat amat ada dan memang diciptakan ada

Sering kali, cepat atau lambatnya seseorang berdamai dengan keadaan tergantung pada beberapa hal yang saling berkaitan:

  • Seberapa besar harapan yang kita lepaskan
    Kadang yang paling menyakitkan bukan kejadiannya, tapi bayangan tentang “seharusnya bagaimana”.
  • Cara kita memaknai kejadian
    Ada yang melihat ujian sebagai hukuman, ada juga yang melihatnya sebagai proses diarahkan. Makna yang berbeda bisa membuat hati jauh lebih ringan.
  • Kesiapan menerima bahwa tidak semua bisa dikendalikan
    Berdamai biasanya mulai terjadi saat kita berhenti terus-menerus melawan kenyataan dalam pikiran.
  • Lingkungan dan dukungan
    Didengar tanpa dihakimi, dipeluk, ditemani—itu mempercepat pemulihan lebih dari yang sering disadari.
  • Hubungan dengan diri sendiri
    Orang yang terus menyalahkan diri biasanya lebih lama pulih dibanding yang bisa berkata, “aku sudah berusaha semampuku.”
  • Kedekatan spiritual
    Bagi banyak orang, rasa tenang muncul saat percaya bahwa hidup tidak berjalan sia-sia, dan ada hal yang sedang dijaga oleh Allah meski belum dipahami sekarang.
  • Waktu + kejujuran pada perasaan
    Berdamai bukan berarti tidak sedih. Kadang justru semakin jujur mengakui kecewa, takut, atau marah, semakin cepat hati tidak lagi berperang sendiri.

Ada orang yang tampak cepat move on, padahal hanya menunda rasa.
Ada juga yang terlihat lama, tapi sebenarnya sedang benar-benar menata hati dengan matang.

Mungkin kalimat ini bisa untuk journaling juga:

“Berdamai bukan tentang melupakan rasa sakit, tapi berhenti melawan kenyataan yang tidak bisa diubah.”

Atau:

“Hati menjadi tenang bukan saat semua sesuai harapan, tapi saat belajar percaya bahwa Allah tetap baik meski jalan hidup berubah.”

Berdamai bukan berarti jadi kebal atau tidak sedih sama sekali.
Biasanya tandanya lebih seperti:

  • bisa mendengar tanpa merasa runtuh,
  • bisa menjawab tanpa menyimpan marah berhari-hari,
  • atau bisa berkata dalam hati, “hidupku tidak harus mengikuti timeline orang lain.”

Itu sudah bentuk penerimaan yang besar. 

Selasa, 19 Mei 2026

Lahirnya Rasa Kaya dari Rasa Cukup

Bukan tentang merasa selalu punya banyak uang, tapi merasa tenang karena percaya rezeki, jalan keluar, dan kecukupan tidak hanya bergantung pada diri sendiri.

Dalam Islam, rasa “kaya” sering lebih dekat dengan hati yang cukup, bukan sekadar angka.

Ada hadis yang maknanya:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup.”

Saat seseorang percaya Allah mencukupkan:

  • usaha tetap dilakukan,
  • ikhtiar tetap jalan,
  • tapi hati tidak terus hidup dalam ketakutan.

Itu yang membuat orang bisa:

  • lebih tenang menghadapi masa depan,
  • tidak terlalu iri dengan hidup orang lain,
  • tidak mudah panik soal rezeki,
  • dan lebih mudah bersyukur.

Kadang memang kondisi rekening belum besar, cicilan masih ada, hidup masih naik turun. Tapi ada orang yang tetap merasa “ditopang”.
Seperti selalu ada jalan, pertolongan, atau kecukupan di waktu yang tepat.

Kadang rezeki hadir dalam bentuk:

  • dipertemukan dengan orang yang membantu,
  • dimudahkan saat sedang butuh,
  • diberi jalan keluar di waktu yang tepat,
  • ditenangkan hatinya,
  • atau dijauhkan dari masalah yang lebih besar.

Dan menariknya, banyak orang baru sadar:
“ternyata Allah tidak selalu memberi lebih cepat, tapi memberi di waktu yang paling pas.”

Rasa cukup juga sering lahir dari situ.
Bukan karena semua keinginan langsung terpenuhi, tapi karena:

“yang dibutuhkan ternyata selalu ada ketika benar-benar diperlukan.”

Ada orang yang hartanya besar tapi hatinya terus takut kurang.
Ada juga yang hidup sederhana, tapi berkali-kali merasakan:

  • selalu ada jalan,
  • selalu ada pertolongan,
  • selalu ada kecukupan.

Itu sebabnya ketenangan sering dianggap bagian dari rezeki juga.

Dalam hidup, kadang yang membuat hati merasa “ditanggung” bukan jumlah yang datang, tapi timing-nya.
Saat kita sudah hampir bingung, lalu tiba-tiba dimudahkan.
Saat itu banyak orang merasa:

“Oh… ternyata aku tidak sendirian dijaga.”

Dan rasa seperti itu biasanya membuat seseorang lebih mudah bersyukur, lebih lembut, dan lebih percaya bahwa hidup tidak sepenuhnya harus dikendalikan sendiri.

Rabu, 13 Mei 2026

Adaptasi 5 bulan pernikahan

Akhir-akhir ini aku menyadari, 
ternyata bukan omongan orang yang paling melelahkan, 
melainkan bagaimana aku menyimpan semuanya terlalu lama di dalam hati dan pikiranku sendiri.

Selama ini aku merasa nyaman dengan hal-hal yang menurutku aman. 
Dengan lingkungan yang familiar. Dengan cara hidup yang terasa tenang dan bisa diprediksi. 
Tapi setelah menikah, banyak hal datang bersamaan. 
Banyak penyesuaian, banyak suara dari luar, banyak ekspektasi yang perlahan membuatku merasa sesak.

Ada pertanyaan tentang kehamilan.
Ada proses ekonomi rumah tangga yang masih dibangun pelan-pelan.
Ada perubahan kehidupan sosial.
Ada rasa takut dianggap membatasi.
Ada rasa ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan semuanya.

Dan tanpa sadar, aku mulai menjadi lebih defensif. 

Lebih mudah emosi. 

Lebih sering menarik diri.

Namun dari semua ini, aku mulai memahami sesuatu.

Mungkin yang seharusnya luas bukan lingkungan yang selalu mengerti diriku, 
melainkan hati dan pikiranku sendiri. 
Karena jika hati terlalu sempit, semua ucapan orang akan tinggal terlalu lama di dalamnya.

Aku juga mulai sadar, manusia tidak bisa selamanya hidup di tempat yang terasa aman. 
Akan ada fase ketika hidup memaksa kita bertumbuh, menghadapi hal-hal yang tidak terduga, dan belajar bertahan dengan cara yang baru.

Aku tidak harus menjadi keras seperti orang-orang yang pernah melukaiku. 
Tapi aku juga tidak harus terus menjadi seseorang yang menahan semuanya sendiri.

Aku bisa belajar tegas tanpa menyakiti.
Aku bisa menjaga batas tanpa membenci.
Aku bisa memilih tenang tanpa harus menjelaskan semuanya kepada semua orang.

Untuk sementara, mungkin aku memang sedang mengambil jarak dari lingkungan. 
Bukan karena membenci siapa pun, tetapi karena aku sedang belajar menenangkan diriku sendiri. Sedang belajar membangun ruang yang lebih aman di dalam hati.

Dan mungkin ini bukan tentang menjauh dari dunia, melainkan tentang menemukan diriku yang lebih kuat, lebih luas, dan lebih tenang dari sebelumnya.

Aku tahu hidup tidak akan selalu berjalan sesuai harapan. Aku dan orang-orang di sekitarku pun tidak akan selalu bersama selamanya. 
Karena itu, setiap orang perlu belajar bertahan dan bertumbuh dengan caranya masing-masing.

Hari ini aku belum sepenuhnya kuat.
Aku masih belajar.
Masih pelan.
Masih mencoba memahami semuanya.

Tapi setidaknya sekarang aku tahu:
aku tidak ingin terus hidup dengan hati yang penuh oleh suara orang lain.

Kamis, 22 Januari 2026

Takdir yang dibangun

Mungkin ini salah satu keputusan terbesarku dari sekian banyak proses hidup,
mengambil keputusan atas diri dan hidup sendiri, 

memilih takdirku sendiri, 
bukan hanya karna pilihan hati maupun ego diri, tapi juga karena-Nya.

Penantian itu bukan sekedar menunggu,
tapi berusaha dan berproses,
sebab segala sesuatu yang akan kita terima, bukan hanya karna sudah waktunya,
tapi perihal sudah siapkah kita menerimanya ?

Bayangkan begini:

Takdir bukan satu titik,
tapi jalur.

Titik-titiknya adalah:

  • keputusan untuk sembuh

  • belajar dari hubungan sebelumnya

  • berkata jujur

  • memilih bertahan saat bisa pergi

  • memilih memperbaiki, bukan lari

Ketika dua orang sama-sama berjalan ke arah kedewasaan,
jalurnya akhirnya bertemu.

Bukan kebetulan kosong,
tapi pertemuan dari dua proses.

dan alhamdulillah, mungkin proses ini yang menjadi salah satu alasan kami dipertemukan dan dipersatukan dalam akad 20.12.2025.

Hadiah Allah itu melebihi harapan manusia, tapi seringnya manusia berharap bukan pada-Nya, jadi kekecewaanlah yang didapat.

kamu tau rasa "nah ini dia, orangnya".

ternyata rasa itu muncul dari sini :

  • kamu sudah tahu apa yang tidak bisa kamu toleransi

  • kamu sudah berdamai dengan dirimu sendiri

  • kamu tidak lagi mencari untuk “diselamatkan”

Lalu hadir seseorang yang:

  • tidak memicu luka lama

  • mau bertumbuh bersama

  • memilih kamu, bukan hanya mencintai kamu

Itu bukan kebetulan romantis semata.
Itu takdir yang disusun pelan-pelan.

Kalau takdir sepenuhnya statis:

  • usaha tidak berarti

  • doa tidak bermakna

  • pertumbuhan tidak relevan

Tapi hidup menunjukkan sebaliknya.

Seolah Tuhan berkata:

“Aku bukakan jalan,
tapi kamu yang melangkah.”


Jadi…

Bukan:

“Kami bersama karena sudah ditakdirkan.”

Melainkan:

“Kami ditakdirkan bersama karena kami memilih untuk menjadi versi diri yang bisa bersama.”

Dan itu indah,
karena cinta tidak pasif—

ia dikerjakan 🤍 



Jumat, 13 Juni 2025

Sebelum Menyusuri Jalan Bersama

 



Dulu, aku pernah memilih diam di sebuah tempat yang kupikir akan menjadi rumah
Aku menetap dengan harapan, merawat cinta dengan ketulusan
Tapi tak kusangka, pondasinya belum kuat
Bukan karena aku tak cukup baik, bukan karena aku tak layak dicintai,
tapi karena dia sedang menyelamatkan dirinya, -itu katanya 
Dia memilih hening, berjalan tanpa arah dan waktu yang jelas
Bukan ingin menyakitiku, 
tapi karena merasa belum mampu, bahkan untuk membahagiakan dirinya sendiri, -itu ucapnya

Enam tahun...
menanti dalam ruang hampa, semu dan penuh pertanyaan
ulahku sendiri memang
mencoba meredam komunikasi
Dua tahun...
dalam senyap, diantara kesedihan yang tak berkesudahan,
pelan-pelan belajar melepaskan
pelan-pelan mengobati luka
pelan-pelan bertumbuh dalam ikhlas
menyapu air mata, 
menerima rasa marah, 
memahami kehampaan, 
dan belajar memaafkan.

seiring waktu berlalu,
berusaha untuk pulih
sampai akhirnya Allah yang memilih.
Allah hadirkan seseorang yang tak pernah kuhiraukan sebelumnya,
seakan selama ini Allah memberiku waktu, sampai aku siap untuk dipertemukan. 

proses penyembuhan membawaku pada pertemuan ini
dia tidak datang dengan gemuruh, tapi dengan tenang.
dia tidak sempurna, tapi nyata
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa ingin melangkah, 
bukan karena ingin melupakan masa lalu, 
tapi karena ingin melangkah menuju masa depan.

Setahun berjalan,
dan aku mulai meyakinkan diri: "dialah orangnya".
Tapi Allah, dengan cara-Nya yang penuh rahasia, kembali menguji.
Kali ini bukan soal hati, tapi soal hidup yang nyata 
fnansial, tekanan, dan luka yang membeku lama dalam keluarganya.
semula terlihat tenang, tapi ternyata riuh dalamnya
Aku melihat betapa beratnya ia menanggung, 
bahkan hampir menyerah karena merasa tak bersalah namun ikut terkena dampak.

Kamis, 12 Juni 2025

Dengan Kesadaran




 Aku adalah perempuan yang tidak sedang mencari jalan paling mudah dalam mencintai.

Aku sedang memilih jalan yang jujur—yang kadang tidak pasti, tapi penuh niat baik.
Aku sedang bersama seseorang yang Allah datangkan ketika hati belajar mengikhlaskan.
Bukan kebetulan mungkin, bahwa inisial namanya sama denganku—karena kami memang terasa seperti satu jiwa, hanya dibedakan oleh bentuk, perjalanan hidup, dan waktu.

aku sadar betul dia belum sepenuhnya siap, dan aku tahu itu.
Tapi aku juga tahu: dia sedang berusaha. Dia tidak bersembunyi. Dia tidak lari.
Dan aku memilih untuk tetap ada di sisinya—bukan karena aku buta, tapi karena aku bisa melihat hatinya yang terbuka.

Aku pernah bertanya dalam diam:

"Salahkah aku karena menunggu?"
Lalu aku sadar—aku tidak sedang diam. Aku sedang berjalan, hanya saja langkahku mengikuti irama yang berbeda.
Aku tetap bertumbuh, tetap merasa, tetap menjaga cinta ini agar tidak kehilangan arah.

Aku tidak menunggu dalam kegelapan.
Aku menunggu sambil menyalakan lentera kecil di hati—bernama harapan.
Aku tidak menunda hidupku.
Aku menjalani hari-hari sambil menggenggam sesuatu yang belum jadi, tapi nyata: komitmen.

Aku tahu akan ada hari-hari di mana aku lelah.
Hari di mana kata-kata dari luar terasa menusuk.
Tapi di hari-hari seperti itu, aku akan kembali ke sini—ke catatan ini,
dan mengingat bahwa aku berani mencintai, bahkan sebelum semua orang menganggap waktunya "tepat."

Aku percaya pada waktu Allah.
Aku percaya bahwa jika aku dan dia dijaga oleh niat baik dan kesabaran, maka semesta akan mengizinkan kami menjadi satu—dengan cara kami sendiri, dengan kekuatan yang kami bangun perlahan.

Doaku hari ini sederhana:
Semoga "kamu" dijaga dalam usahamu. Semoga aku tetap kuat dalam hatiku.
Dan semoga jalan menuju “kita” benar-benar akan sampai—meski tidak cepat, tapi penuh makna.

Karena cinta ini bukan tentang siapa duluan sampai, tapi siapa yang tetap memilih untuk tidak pergi.

Aku, yang mencintaimu dengan sadar

Kamis, 24 April 2025

Kepastian dalam Penantian, Pasrah dalam Kebimbangan



2025 kita
semakin berjalan semakin tak terasa kini sampai dititik pasrah
pasrah untuk tak menyerah
pertemuan yang Allah tetapkan, membuat semua berubah
bukan lagi soal percintaan
bukan lagi soal kehampaan
tapi tentang bagaimana menggali jati diri
pertemuan ini awalnya terasa menyenangkan
bahkan setelah bertanya kepada-Nya
sudah yakin dalam hati bahwa dialah orangnya

setelah beberapa kali bentuk pengabaian kami
ternyata Allah mengizinkan waktu perkenalan ini

31 Juli 2024,
setelah beberapa kali kami bertemu dalam ketidakpedulian
akhirnya dia mencoba memberanikan diri untuk berkenalan
alasan yang begitu klasik, aku paham tapi aku tak ingin menyimpan harap
aku mencoba menyambutnya dengan penuh hangat
mungkin ini bisa jadi awal pertemanan
hari-hari terus berjalan, bersama do'a yang ku panjatkan
dan beberapa pertanda yang ku coba pahami
sampai...

17 Agustus 2024,
aku hanya sedikit memberi peluang
dengan harapan jika benar serius, pastilah dia berani
ku coba kabarkan jika saat ini akan cuti dan pulang ke rumah 
tak banyak harap awalnya
hanya sekedar membayangkan jika dia mau mengantarkanku ke stasiun
tapi... jauh dari bayanganku
dia memutuskan untuk ikut, dengan alasan dia ingin bertemu dan kenal keluargaku


20 Agustus 2024,
benar dia datang, berusaha memenuhi janjinya
padahal sebelumnya sempat sakit ketika sampai di jogja
ya... ibu bapak memberikan sambutan hangat dan padangan jika dia memang baik


hari terus berlalu, setelah mencoba berkenalan dengan bapaknya melalui vcall
mengharapkan kedatanganku untuk berkenalan dengan keluarga beliau di sleman
entah ini terlalu cepat atau ... semua memang berjalan sesuai kehendak-Nya.


28 Januari 2025,
tepat dihari kelahiran ibuku, kami kembali ke jogja
bersama niatnya untuk mengenalkanku pada keluarganya
alhamdulillah semua terasa dimudahkan
sambutan hangat kuterima dari keluarganya di sleman


Sampai tiba dimana kami mudik hari raya lebaran 2025
perjalanan penuh haru 
selalu mengharapkan yang terbaik dari niat yang terbesit


3 April 2025,
pertemuan kedua ke masing-masing keluarga
sekaligus menyampaikan niatmu ke ibu dan bapakku
semakin diniatkan, semakin datang juga keraguan-keraguan dalam diriku muncul
semakin mengenal keluarga, ternyata semakin kita harus siap dengan apa yang akan terjadi nanti
kini yang kuharap hanyalah kemantapan hati dari-Nya
tak sedikitpun daya dan upaya yang bisa kulakukan untuk menjadikan semua rencana itu pasti
hanya berusaha semampuku, dan berdoa penuh harap hingga kemantapan itu hadir kembali

apapun yang akan kita hadapi setelah ini, semoga untuk saling menguatkan niat ya...
bukan untuk saling melepaskan tanpa berusaha
aku punya kekurangan, dirimu pun demikian
harapku selalu yang terbaik atas ridho-Nya

flashback:
     dulu aku pernah menangis, memohon kepada-Nya untuk menitipkan salamku pada jodohku
     menitipkan jiwa raga (jodohku) pada-Nya
     sebab disini aku sudah membutuhkannya, tapi belum berusaha mempersiapkannya
     perihal keluarga jodohku, kuserahkan semua pada-Nya


Kini...
Terima kasih untuk semua usaha dan perbaikannya
semoga Allah beri kemudahan, dan kecukupan untuk niat kita
Aamiin ...


Kamis, 31 Oktober 2024

90 Hari menuju Pertemuan

 

since 20.08.2024


Melanjutkan proses belajar berjalan, 
menikmati segala yang terlihat maupun terasa
kini, untuk sementara aku memilih berhenti 
entah berhenti karna sudah menemukan
entah berhenti karna kelelahan
atau memang sudah Allah takdirkan ?

Meski belum pasti bagaimana ujung dari perjalanan ini
entah senang atau sedih
tapi hati dan lisan ini selalu berusaha memohon yang terbaik

Jika ini kali terakhir yang menjadi tempat singgah
semoga Allah mudahkan menjadi tempat akhir dari penantian
jika perjalanan ini saling membawa kebaikan
kuharap tak hanya di dunia, tapi juga sampai kehidupan selanjutnya


Tak ada yang menjamin bahwa hidup bersama selalu menawarkan kebahagiaan
hanya karna restu keduanya kita bisa menciptakan
tawa dan bahagia
hanya karna ridho-Nya kita bisa melewati
tangis dan duka

Sekiranya ujung dari persinggahan ini adalah duka
maka kuserahkan semua hanya kepada-Nya
Ia yang memberikan kesempatan, 
bagaimanapun akhirnya pasti yang terbaik bukan ?
ku do'akan bahwa setelah ini, kita saling bertemu dengan yang terbaik

Sekiranya ujung dari persinggahan ini adalah bahagia
semoga ini menjadi akhir dari pencarian kita
saling dipertemukan
saling memperbaiki diri
saling menguatkan
saling merekatkan
saling menyelamatkan
dunia-akhirat

aamiin ya rabbal alamin...
-20.11-

Selasa, 30 April 2024

Seperti Belajar Berjalan



Jika pada umumnya bayi belajar berjalan pada usia 1 atau 2 tahun,
maka perjalananku menuju dewasa pada usia 28 tahun.
dan artinya... baru 1 tahun terakhir perjalanan dewasa ini dilalui 

mau percaya atau tidak,
kenyataan yang paling pedih itu ...
ketika kita tak mengenali diri sendiri.

hilang,
atau memang tak pernah mencari.

Sedih? iya..
tentang perjalanan memang begitu kan?

Ada yang pernah mengingatkan bahwa
 "Setiap Masa ada Orangnya, dan Setiap Orang ada Masanya"

memahami kalimat tersebut terlihat mudah,
tapi menjalaninya butuh ikhlas yang tak hanya sekedar kata.

Jati diri, dan Ikhlas 
2 harta yang harus bisa digali sendiri.
walaupun kenyataannya baru tersadarkan melalui orang lain.
hatinya digerakkan oleh Allah juga bukan?

nikmati setiap perjalanan yang diberikan-Nya,
jangan lupa,
dunia tempat belajar
dunia tempat lelah
dunia masih ada tangis,
yakin saja, jika kau lulus ujian-Nya
semua yang di dunia hanyalah cerita.

Senin, 31 Oktober 2022

60 Hari menuju Lembaran Baru

Tak terasa langkah kaki masih diberi kesempatan sampai pada hari ini 31 Oktober 2022
sejauh apapun diri melangkah, tetap saja rasanya ingin kembali ke keluarga
sebanyak apapun yang aku cari, tetap saja rasanya selalu ingin ku beri ke keluarga

entah hingga seberapa lelah aku berusaha, agar ku bisa bertemu denganmu... 💓

untuk penghujung tahun yang tersisa, aku hanya selalu mencoba untuk jadi diri yang lebih baik,
belajar sesuatu yang tak sering ku lakukan sebelumnya,
belajar mengontrol emosi, agar lebih terkendali,
belajar menerima diri, agar tak mudah mengeluh
dan yang paling berkesan adalah ..
belajar menerima segala ketentuan-Nya, agar tak mudah putus asa.
sebab, setiap perjalanan, setiap lembar halaman, setiap hembusan nafas, 
ada banyak do'a terbaik yang dipanjatkan dari orang-orang baik di sekelilingku.
terlebih ketika ada masa dimana, aku ingin melangkah, mencoba mengambil keputusan untuk memberanikan nyali.
selalu memohon, agar apa yang kupilih, tak menjadi sesal dikemudian hari.





Memilih Berhenti untuk Bertahan

Ada kalimat sederhana dengan arti yang mendalam
"Kita memang tidak boleh berhenti untuk belajar, tapi...
  ternyata kita juga harus belajar untuk berhenti"
begitu katanya...

Benar ketika kau mencoba melupakan, semua akan terasa sia-sia
karena sekeras apapun kau mencoba melupakan, kenangan tetap ada pada tempatnya.
Namun, ketika kau belajar untuk berhenti, disana pilihanmu dipertaruhkan.
selama apapun kau tidak berkomunikasi, kau bisa mengalihkan pada sesuatu hal yang lebih bermanfaat.
selama apapun kau tidak bertemu, kau bisa menggunakan waktu mu untuk bertemu dengan kawan lamamu.
dan sejauh apapun kini jarakmu dengannya... itulah yang sudah Allah tentukan untukmu

Perihal mencari orang baru, bukan hal yang mudah memang
terkadang masih saja ia menjadi tolak ukur untuk orang berikutnya.
tapi sampai kapan???
betul... kita tidak boleh berhenti belajar..
bahwa bertemu dengannya, pasti ada hal positif yang dapat membentuk dirimu jadi lebih baik lagi.
bertemu dengannya, pasti ada hal negatif yang dapat kau perbaiki untuk dirimu saat ini dan seterusnya.
dan pertemuanmu dengannya, akan menjadi cerita kelak ketika kau sedang diminta pendapat oleh seseorang yang kau panggil "nak..."

Teruslah belajar, sampai kuasa-Nya dan waktu-Nya yang menentukan bahwa kau harus berhenti pada orang yang tepat, dan versi terbaik dari dirimu ☺

Terima kasih untuk kau yang jauh disana..
Semoga kita segera dipertemukan dengan pilihan terbaik-Nya

 

Jumat, 20 November 2020

Batas Kemampuan



Kelebihan mu adalah ketika kau mampu melampaui batas diri

tapi semakin kau mengejar dan menggapai, kau harus siap lelah

bahkan sakit hingga berdarah


Namun entahlah,

apakah diri ini sudah melakukannya dengan baik?

apakah diri ini harus dan terus memaksakan diri hingga tercapai?

tercapai untuk siapa?

untuk diri?

atau justru orang lain?


Kau akan lelah bahkan sakit

ketika kau melakukan semuanya 

bukan karena diri sendiri

lebih sakit lagi ketika masanya

kau berusaha memenuhi keinginan dan ekspektasi orang lain


Hidup bukan hanya tentang mereka

tapi juga tentang dirimu sendiri

bukan egois

tapi untuk apa, menutupi luka orang lain sedangkan dirimu lebih terluka?

kebahagiaanmu tidak di tangan mereka bukan?

kebahagiaanmu bukan tanggung jawab mereka kan?

semua itu atas kehendak-Nya dan tanggung jawabmu sendiri !!!


Tak perlu merasa gagal, 

jika kau tak mampu memenuhi ekspektasi orang lain

mereka tidak hidup dengan keberhasilanmu

walau mereka dapat menjadi bahan pelajaranmu

kerikil atau duri dalam perjalananmu

kau harus tetap melewatinya


Merasa gagal lah ketika kau tak mampu membantu

merasa gagal lah ketika kau tak mampu menolong

bukan karena kau lebih,

tapi karena kau tak mau.


Sebenarnya selalu ada salah dalam setiap langkah

selalu ada keliru dalam setiap tingkah

sekarang kau merasa gagal karena langkah dan tingkahmu sendiri

karena apa?

karena kau terus memikirkan ekspektasi orang lain.

hingga lupa bahwa kau hampir kalah

bukan dengan mereka

tapi kalah dengan dirimu sendiri !

Selasa, 17 September 2019

Menepi dan Memilih

Hasil gambar untuk ingin menepi
Aku memilih menepi,
karna sampai detik ini,
aku belum mengerti,
dan aku masih mencari arti,
apa arti dari pertemuan ini,

Sekilas aku sudah ikhlas,
bahkan lebih rela dari sebelumnya,
tapi masih ada yang menunggu jawabanku disana,
dia yang tak pernah kuduga kehadirannya,
sampai detik ini suaranya masih ada, 

Aku ingin berusaha menutup pintu untukmu,
tapi rupanya, kamu lupa caranya berpamitan,
agar aku lebih tenang melepasmu,
sebagai sesuatu yang kusebut "kenangan".

Aku ingin mencoba membuka pintu untuknya,
tapi rupanya, aku lupa caranya menyambut dengan hangat,
agar dia bisa senang saat berkunjung ke rumahku
sebagai sesuatu yang kusebut  ". . . . . . . . . ."

Senin, 03 Desember 2018

Datang dengan Kedewasaan

Gambar terkait

Ketika kau datang kembali
semua terasa berbeda
semua terasa lebih dewasa
kau dan aku . . .

lagi-lagi kau datang
bukan untuk memberi harapan
tapi justru untuk mempertegas
kuharap . . .
apa yang kita inginkan sama
apa yang kita do'akan sejalan
semoga Allah merestui
dan alam pun mengiringi

Kelak,
jika waktu yang kita tentukan
jika saat yang kita inginkan tiba
semoga kita sudah saling membaik

Do'aku masih sama,
jika kau baik untukku
semoga Dia memudahkan
tapi jika kau tak baik untukku
semoga Dia menggantikan

dan kita bisa terus bersama
tanpa ada ikatan yang sia-sia
tanpa ada ikatan yang tak jelas
dengan begitu, seperti apapun nanti
kita masih bisa tetap berkomunikasi

dan jika kelak, benar kau lah orangnya
akan ku ceritakan semua kisah ini
akan ku tunjukkan semua tulisan ini

Rabu, 19 September 2018

Diam

 Hasil gambar untuk diam



Cobalah,
Menguatkan hati
menegarkan diri
dan menjernihkan pikiran

Kau tau,
tak mudah menenangkan hati sedang dalam sakit
tak mudah mengindahkan wajah sedang dalam amarah
tak mudah mengatur ucapan sedang dalam emosi
semua terasa percuma dan sia-sia
sebab hanya kita sendiri yang merasakan
sebab hanya kita sendiri yang memahami

Diam,
sudah cara paling akhir
sudah sikap tanpa pilihan
karena diam adalah
amarah yang paling menyakitkan
karena diam adalah
akibat dari hal yang paling memuakkan

Jika,
sudah tiba waktunya
bom itu dapat meledak
tapi ingatlah
Allah saja Maha Pengampun
bukan berarti kau seperti Dia
tapi lihatlah
betapa Allah yang punya segalanya
masih berkenan Mengampuni hambanya
lalu, apa hak mu yang tak mau memaafkan?

Kalaulah,
perlakuan mereka masih saja teringat
wajarlah, karena kau diberi akal untuk mengingat
tapi bukan berarti tak memaafkan bukan?
anggaplah ini perjalanan
tanpa perlakuan dari mereka
kau tak akan dewasa

Senin, 17 September 2018

Akhir dari Tanyaku

 Gambar terkait


Akhirnya . . .
tanyaku berakhir disini
jawabmu begitu tegas
dan inilah yang ku nanti

Kini aku tau kemana kaki ini harus melangkah
kini aku mengerti kemana hati ini harus mengarah
dan aku sudah paham bagaimana harus bersikap

Terima kasih
sudah menjadi sosok dalam ceritaku
terima kasih
sudah menjadi paragraf dalam tulisanku
terima kasih
sudah menjadi alasan dalam kedewasaanku

Dan maaf . . .
mungkin memang hanya sampai disini
aku sudah mulai lelah
bukan berarti aku menyerah
tapi . . . 
karena aku sudah berusaha pasrah


Kepasrahan yang Mendalam

 


Tak ada kata yang dapat menggambarkan tentangmu lagi
kini yang ku tau
kita sedang sama-sama berjuang
berjuang demi cita-cita
dan demi cinta

aku yakin jika benar kamu orangnya
cepat atau lambat kau akan menjemputku
bukan untuk serta merta dimiliki
tapi untuk kau jaga
bukan juga untuk disakiti
tapi untuk kau sayangi
semoga apa yang sedang kita perjuangkan
mampu kita raih hingga mencapai tujuan

aku tak pernah meminta
kau harus seperti apa
atau kau harus bagaimana
aku hanya berdo'a
kelak kau berani meminta izin
kepada dua orang yang kusayangi
kepada dua orang yang menyanyangiku
tanpa mengharap balasan
dan aku terus berdo'a
kelak kau mampu membawaku
dan keluarga kita
menuju surga-Nya

jangan cemas
jangan gusar
kita hanya butuh sedikit waktu
untuk saling bertemu
kita hanya butuh sedikit ruang
untuk saling berjuang
tenangkan hatimu
terangkan pikiranmu
dan riuhkanlah hatimu
dengan do'a serta menyebut nama-Nya

karena hanya Dia-lah
sang Maha segalanya
yang menciptakan rasa
dan mempertemukan raga

kini . . .
sampailah aku pada "Kepasrahan yang Mendalam"